Use Linux Instead XP or Leopard
Wednesday, May 07, 2008
More people are converting to Linux platform and it seems that they are not regretting the conversion. It was after the church service when there was a tap on my shoulder.
"Hey Neil, just letting you know that you converted me" said the voice.
I turned around. There before me was Gary (not his real name), a member of our church. Before I had the brainpower to wonder why it was that a Christian in our church had just announced that I had converted him, he continued.
"I'm using Linux"
Gary continued the story. A month or so ago our two families had lunch after church together and we got talking about operating systems. Gary, a doctor, had an Mac Laptop running Leopard and a desktop running Windows XP. I remember him complaining about how difficult XP was getting for him, how frustrated he was at how slow it was running, how annoyed he was at certain programs.
At this point I naturally began talking about Linux and my own experiences. Gary listened and asked questions - he had heard about Linux and had considered running it in the past - but had never gotten around to doing it because he didn't have much information.
Having both a Mac and a Windows PC meant that he could see the massive problems with Windows XP in comparison with his Mac. He wasn't about to go off and buy himself a Mac desktop and replace his Windows machine just yet.
After that lunch I didn't give it another thought, but Gary obviously did. The other day he upgraded to Ubuntu 8.04, the most popular Linux distro.
"I'm loving it" he said to me at church, "it does exactly what I want it to do with a minimum of fuss. Actually, the person who seems to enjoy it more is Larissa (wife)."
Another person joined us in our Linux conversation. He mentioned just how hard it would be for him to stop using Windows and to use something else. Gary and I both agreed that any move to Linux requires a re-learning and settling in period, but once you have gotten over that hump, you never look back.
While talking to Gary I mentioned what a unique position he was in - he had experience in both Mac and Windows before removing Windows and replacing it with Linux. Here is a man who can use three different operating systems - and who waxes lyrical about Linux.
Gary, of course, is not about to ditch his Mac laptop. He's very happy with the Mac software and knows enough about it to realize how similar it is to Linux (both are based upon Unix). He also knows that there are things that Macs do which Linux can't do yet... which is another reason why he is happy to keep both computers running different operating systems.
Of course, Gary is still new to the Linux world and is bound to experience some ups and downs. Nevertheless I am reasonably confident that he, like me, won't regret the move at all.
Source: One Salient Oversight
Desktop and Server on New Ubuntu 8.04
Ubuntu 8.04 LTS (long-term support) launched on April 24th for desktops and servers. There is something for everyone in this version, but the LTS release will have particular appeal to enterprises. As one corporate user said to me, "I have been waiting for the release of Ubuntu 8.04, because I am using Ubuntu 6.06 on my company laptop and we have to install exclusively long term support releases." The LTS release assures a reliable upgrade paths twice a year with security updates maintained for a full five years.
This newest version was developed under the codename "Hardy Heron". The previous version, 7.10 (once known by the code name of "Gutsy Gibbon") was a rock-solid release that launched in October 2007. Numerous incremental improvements have appeared since – with all the updates freely available and automatically installable. Ubuntu has continued to develop momentum as a reliable, fun to use operating system.
For new users or existing users considering an upgrade, it's easy to try Ubuntu 8.04. Simply download the software from ubuntu.com and burn it onto a CD. From there, you have three options to try it out. If you have an old, unused PC, dust it off and install Ubuntu. This is a great way to bring new life to old computers.
Another approach is to use the Ubuntu "Live" CD without installing onto your computer – simply boot off the CD. Select the startup option that says "Try Ubuntu without any change to your computer". You should be running Ubuntu in no time without reconfiguring your system.
A third trial option is to run Ubuntu on an existing Windows PC using a feature called Wubi. This installs Ubuntu as a Windows application without taking over or reconfiguring the PC. It takes a while to install, but I was surprised by how good the performance was once it got running. Wubi can be easily uninstalled.
For existing Ubuntu users, the 8.04 release looks better than ever and is a logical step forward as an upgrade path. To insure you have no installation incompatibilities with this release (I encountered several), I suggest downloading the full CD from ubuntu.com first. Try the "Live CD" approach prior to upgrading your production configuration. Another practical tip is to maintain your data files on a separate physical or logical drive from your installed operating system, thus reducing your risks and giving you more options during any upgrade installation.
Read more..
Beryl - Tampilan dan Nuansa 3D di Desktop Linux
Saturday, August 11, 2007

Pernah nyoba Windows Vista? Gimana tampilannya? Jika VGA card anda masuk ke kelas hi-tech seperti NVidia GeForce seri 5xxx, 6xxx atau yang lebih bagus atau anda menggunakan ATI Radeon diatas X1050 anda akan menikmati nuansa 3D yang oleh Microsoft disebut Aero Glass. Tahukah anda bahwa itu gak ada apa-apanya dibanding bila kita menggunakan Linux dan kemudian meginstall Beryl di desktop anda? Vista lewat maaaan! Anda gak perlu merogoh kocek lebih dalam lagi buat menikmati nuansa 3D Beryl di desktop Linux anda. Dengan ATI Radeon X550, X800, NVidia GeForce 6800 atau grafik card sekelasnya anda dapat menikmatinya.
Buat yang pake keluarga Ubuntu langkah - langkah instalasi Beryl gampang aja:
Cek apakah grafik card (VGA card) mendukung akselarasi grafik. Di terminal ketik:
$ glxinfo | grep direct
Jika anda mendapat hasil seperti ini, anda dapat lanjutkan.
direct rendering: Yes
Jika hasilnya 'No', maka anda belum menginstall driver grafik card anda dengan benar. Install ulang driver VGA card anda.
$ sudo apt-get install beryl beryl-manager emerald-themes
Setelah selesai, jalankan Beryl dengan cara :
Alt+F2 lalu Enter
beryl-manager
Agar Beryl selalu dijalankan tiap kali kita login ke Ubuntu kita harus tambahkan Beryl di startup manager:
Klik menu System -> Preferences -> Sessions, dan dibawah tab Startup Programs klik New.
ketik: beryl-manager
Nah selesai. Anda dapat mengkonfigurasi setting di Beryl Manager sesuai selera anda. Selamat menikmati nuansa 3D di PC anda.
Label: 3D, aero, aero glass, ATI, beryl, GeForce, instalasi, install, linux, NVidia, Radeon, ubuntu, vista
Tiga Distro Linux dalam Satu Komputer
Thursday, August 09, 2007
Adalah salah kaprah jika saat membicarakan sistem operasi Linux, kita menyamakannya dengan RedHat, Fedora, Ubuntu, Slackware, Debian, Mepis, Knoppix, dan lain-lain. Linux sebenarnya hanyalah sebuah kernel yang diciptakan oleh Linus Benedict Torvalds. Nah, karena “dilempar” ke pasar dengan lisensi GNU, banyak organisasi dan komunitas yang mengemasnya dengan struktur dan berbagai aplikasi mereka sendiri (lalu mendistribusikannya kembali). Kernel Linux yang telah dikemas dengan berbagai aplikasi itulah yang dikenal dengan distro RedHat, Fedora, Slackware, Debian, atau Ubuntu (untuk mengetahui berbagai macam distribusi Linux yang tersedia, silakan kunjungi DistroWatch).
Lalu bagaimana jika ingin mencoba berbagai distro Linux, tapi semuanya harus diinstall ke dalam harddisk? Apakah mungkin menginstall beberapa distro Linux sekaligus dalam satu komputer? Jawabannya ya. Keuntungan dari instalasi multi-distro tersebut, Anda bisa mempelajari beberapa jenis distro yang memiliki “sifat” serta “kelakuan” yang berbeda sehingga pengetahuan Anda tentang Linux akan semakin kaya.
Pembuatan Partisi
Setiap distro Linux membutuhkan setidaknya dua partisi, yaitu / (root) dan swap. Kebutuhan akan partisi swap sebenarnya bisa diperdebatkan, utamanya apabila Anda memiliki RAM yang besar (misalnya di atas 512MB). Namun bukan hal yang salah apabila partisi swap tetap ingin digunakan.
Dalam kondisi minimal, sediakan n+1 partisi dengan n adalah jumlah distro yang ingin diinstall. Sebagai contoh penulis akan menginstall tiga distro, yaitu Fedora Core, Ubuntu, dan Slackware. Untuk itu, siapkan minimal empat partisi. Tiga partisi akan digunakan untuk partisi / bagi setiap distro, dan satu partisi digunakan sebagai swap. Mengapa partisi swapnya hanya satu? Karena pada satu kurun waktu hanya satu sistem operasi yang dapat beroperasi. Jadi partisi swapnya akan digunakan secara bergantian.
Apabila Anda menginginkan pemisahan partisi /home dari partisi /, sebaiknya partisi untuk /home tersebut juga disediakan sebanyak distro yang ingin diinstall. Jika diinginkan adanya partisi yang dapat digunakan untuk bertukar data antardistro, sebaiknya partisi tersebut disediakan tersendiri.
Besarnya setiap partisi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan. Partisi untuk Fedora Core misalnya, jangan sampai terlalu kecil karena jumlah CD instalasi Fedora Core adalima (bandingkan dengan Ubuntu yang hanya satu). Sebagai contoh, penulis akan menyediakan lima partisi untuk instalasi Fedora Core, Ubuntu, dan Slackware. Tiga partisi untuk partisi/setiap distro, satu partisi untuk partisi swap, dan satu partisi lagi disediakan untuk tukar menukar data antardistro.
Diasumsikan harddisk yang digunakan berukuran 80GB, dan komputer memiliki RAM 512MB. Susunan partisinya seperti pada gambar berikut.
Instalasi Distro Pertama
Katakanlah distro yang diinstall pertama kali adalah Fedora Core. Untuk itu, buatlah susunan partisi seperti di atas. Namun yang dimount hanyalah /dev/hdal sebagai /, /dev/hda6 sebagai swap, dan /dev/hda5 sebagai partisi (untuk sharing data yang mungkin akan di-mount di /sharing).
Formatlah berbagai partisi tersebut dengan file system yang dikenal oleh seluruh distro. Namun Anda tidak perlu terlalu cemas karena umumnya hampir semua distro telah mengenal ext2, ext3, serta reiserfs sebagai file system. Penulis menyarankan untuk menggunakan ext3 saja, karena file system tersebut bisa dikatakan sebagai yang paling populer. Saat anaconda (software instalasi Fedora Core) meminta Anda untuk menginstall GRUB, letakkan GRUB di MBR (dalam hal ini adalah di /dev/hda).
Instalasi Distro Kedua
Pada saat instalasi distro kedua, sebagian susunan partisi telah digunakan untuk distro pertama. Misalnya, distro kedua yang diinstall adalah Ubuntu. Untuk itu, lakukan proses mount hanya terhadap partisi /dev/hda2 untuk / dan /devl hda6 untuk swap. Nantinya partisi untuk sharing data akan dilakukan secara manual.
Jika pada saat instalasi GRUB, installer Ubuntu mengenal adanya distro lain (Fedora Core) yang telah terinstall dan membuat entri untuk booting ke Fedora Core, Anda boleh menggantikan GRUB Fedora Core dengan GRUB Ubuntu. Anda tinggal menginstall GRUB Ubuntu di MBR, maka GRUB yang telah ada di MBR sebelumnya akan hilang. Namun jika Anda menginginkan untuk tetap menggunakan GRUB milik Fedora Core, lakukan instalasi GRUB Ubuntu tersebut di partisi / Ubuntu, yaitu di /dev/hda2.
Instalasi Distro Ketiga
Sama dengan langkah instalasi distro yang kedua, sebagian susunan partisi telah digunakan untuk distro yang pertama dan kedua. Untuk distro Slackware, lakukan mount dan format hanya untuk /dev/hda3 sebagai partisi / dan /dev/hda6 sebagai partisi swap. Partisi untuk sharing dapat dilakukan secara manual.
Sebagai boot loader, secara default Slackware menggunakan LILO. Penulis lebih memilih untuk menggunakan GRUB, karena itu lakukan instalasi LILO di partisi / Slackware, dalam hal ini adalah /dev/hda3.
Konfigurasi Akhir
Beberapa konfigurasi akhir harus dilakukan agar nantinya pada menu GRUB akan muncul ketiga distro yang digunakan.
Mula-mula bootinglah ke distro Fedora Core. Biasanya akan segera timbul masalah, yaitu partisi swap yang tidak ditemukan oleh Fedora Core. Hal itu terjadi karena Fedora Core menggunakan nama label dalam merujuk ke partisi swap, bukan posisi partisinya. Untuk mengatasinya, ada dua solusi yang ditawarkan, yaitu memberi kembali nama label pada partisi swap, atau menyunting file /etc/fstab Fedora Core agar merujuk partisi swap pada posisi partisinya, bukan nama swapnya.
Entri pada file /etdfstab yang merujuk pada partisi swap adalah:
LABEL = SWAP-hda6 swap swap defaults 0 0
Dari entri tersebut terlihat bahwa nama label untuk partisi swap adalah SWAP-hda6. Anda bisa memberi label pada partisi swap dengan perintah berikut:
# mkswap -L SWAP-hda6 /dev/hda6
Cara yang kedua adalah dengan menyunting file /etd fstab tersebut sehingga partisi swap dirujuk berdasar posisi partisinya, bukan nama labelnya:
/dev/hda6 swap swap defaults 0 0
Nah, masalah pertama telah terselesaikan. Sekarang Anda harus menambah entri pada GRUB agar nantinya muncul item untuk booting ke Ubuntu dan Slackware. Untuk melakukan hal tersebut, Anda harus “mengintip” isi konfigurasi GRUB dan LILO milik Ubuntu dan Slackware. Tentunya partisi / Ubuntu dan partisi / Slackware harus dimount terlebih dahulu. Ketikkan perintah berikut (Anda bisa mengetikkan perintah ini secara cepat dalam satu baris):
# cd /mnt; mkdir ubuntu; mkdir slackware; mount -t ext3 /dev/hda 2/mnt/ubuntu; mount -t ext3; /dev/hda3 /mnt/slackware
Lalu, bukalah file /boot/grub/grub.conf yang terdapat di Fedora Core. Agar aman, backup file tersebut terlebih dahulu. Isi file /boot/grub/grub.conf tersebut kira-kira sebagai berikut:
default = 0
timeout = 5
splashimage=(hd0,0)/grub/splash.xpm.gz
# hiddenmenu
title Fedora Core (kernel 2.6.17-1.2157_FC5)
root (hd0,0)
kernel /vmlinuz-2.6.17-1.2157_FC5 ro root= LABEL=/1
rhgb quiet
initrd/initrd-2.6.17-1.2157 FC5.img
Kemudian buka file menu.lst milik Ubuntu yang terdapat di /mnt/ubuntu/boot/grub/menu.lst. Entri yang menunjukkan informasi booting ke Ubuntu adalah:
title Ubuntu, kernel 2.6.15-23-386
root (hd0,1)
kernel /boot/vmlinuz-2.6.15-23-386 root=/dev/hdb5
ro quiet splash
initrd /boot/initrd.img-2.6.15-23-386
Setelah itu, salinlah entri tersebut ke file /boot/grub/grub. conf, dan letakkan di bawah entri Fedora Core. Terakhir, buka file lilo.conf milik Slackware yang terdapat di /mnt/slackware/etc/lilo.conf. Entri yang menunjukkan informasi booting ke Slackware adalah:
boot = /dev/hda3 prompt
timeout = 50
vga = 773
image = /boot/vmlinuz
root = /dev/hda3
label = slackware
read-only
Catatan: Informasi tersebut telah disunting dengan tidak menampilkan bagian yang diberi tanda #. Karena entri pada lilo.conf tidak sama dengan entri pada grub.conf, Anda harus membuat entri sendiri pada file /boot/grub/grub.conf dengan nilai-nilai yang disesuaikan dengan entri pada lilo.conf tersebut. Entri tersebut sebagai berikut:
title Slackware
root (hd0,2)
kernel /boot/vmlinuz root=/dev/hda3 vga=773
Letakkan entri tersebut di bawah entri Fedora Core dan Ubuntu, kemudian simpan file /boot/grub/grub.conf tersebut, dan reboot komputer Anda. Sekarang pada menu GRUB telah muncul tiga entri, yaitu Fedora Core, Ubuntu, dan Slackware.
Sebagai langkah konfigurasi terakhir, pada Ubuntu dan Slackware buatlah direktori /sharing, dan sunting file /etd fstab dengan menambahkan item berikut:
/dev/hda5 /sharing ext3 defaults 0 0
Sekarang, partisi /dev/hda5 bisa digunakan oleh ketiga distro tersebut sehingga bisa difungsikan sebagai media untuk tukar-menukar data. Secara garis besar cara instalasi dan konfigurasi di atas dapat digunakan sebagai panduan untuk kombinasi distro yang berbeda.
Sumber : Ainul Hakim
Label: debian, distro, fedora, knoppix, linux, multi distro, slackware, ubuntu
Install Wine di ZenCafe
Install Wine di Zencafe sedikit berbeda dengan di Ubuntu
Pertama kita mesti download paket Wine disini.
Setelah itu install dengan membuka konsol
Langkah - langkahnya :
$ installpkg wine-(versi).tgz
Setelah selesai, ketikan di konsol:
$ winecfg
Pada config, ubah dengan setting Windows 98.
Untuk menjalankan aplikasi windows, ketik di konsol wine nama-aplikasi.exe misalnya :
$ wine notepad.exe
Untuk aplikasi Windows yang memerlukan proses instalasi, kita harus mendownload tools winetools, untuk mendownloadnya klik disini.
Setelah selesai, install winetools via konsol:
$ tar -xvf winetools(versi).tar.gz
$ cd wine-tools(versi) dimana kamu extrac
$ ./install
$ wt
Selama Wine aktif, konsol jangan di-close.
Label: billing warnet, ubuntu, warnet linux, wine, winetools, zencafe
Jalankan Aplikasi Windows di Ubuntu Dengan WINE

Buat rekan - rekan yang masih ragu untuk migrasi ke Linux karena takut aplikasi yang biasa dipakai di Windows tidak tersedia di Linux, jangan kuatir. Anda tetap dapat menjalankan hampir semua aplikasi yang Windows-based di Linux
via WINE, Windows Emulator. Wine dapat menjalankan aplikasi - aplikasi Windows dengan baik, seperti Adobe Photoshop, Autocad, Mathcad, Adobe PageMaker,WinRAR, Age of Empre III, Soldat, Dreamweaver, Counter Strike, Command & Conquer, Half Life, Microsoft Office 97, Winamp, Windows Media Player 6.4, QuickTime, Canvas, Paintshop, Xara, dll. Lengkapnya dapat dilihat di Wine App Database atau di Frank Corner. Buat rekan - rekan yang mempunyai counter handphone dan biasa menjalankan aplikasi MobileMB untuk mentransfer ringtone dan wallpaper juga dapat dijalankan di Linux via Wine.
Untuk rekan - rekan yang menggunakan Ubuntu family atau Debian dapat menginstall Wine dengan langkah sbb:
Buka Terminal, lalu tambahkan key repository Wine agar masuk ke list APT:
wget -q http://wine.budgetdedicated.com/apt/387EE263.gpg -O- | sudo apt-key add -
Lalu ketikkan perintah dibawah ini di Terminal:Untuk Ubuntu Feisty (7.04):
sudo wget http://wine.budgetdedicated.com/apt/sources.list.d/feisty.list -O /etc/apt/sources.list.d/winehq.list
For Ubuntu Edgy (6.10) (hanya versi 32 bit):
sudo wget http://wine.budgetdedicated.com/apt/sources.list.d/edgy.list -O /etc/apt/sources.list.d/winehq.list
For Debian Etch (4.0) (hanya versi 32 bit):
sudo wget http://wine.budgetdedicated.com/apt/sources.list.d/etch.list -O /etc/apt/sources.list.d/winehq.list
Setelah itu kita baru dapat menginstal Wine:
sudo apt-get update
sudo apt-get install wine
Selesai
Anda dapat menjalankan Wine dari Menu Linux anda atau dari Terminal dengan mengetikkan :
$ wine
Lalu untuk setting wine ketikkan:
$ winecfg
Konfigurasikan wine seperlunya
Selamat ber-Wine ria!
Label: linux, mobilemb, ubuntu, windows, windows emulator, wine
Akhirnya Gw Install Ubuntu Studio
Gw gak nginstal dari CD tapi langsung update lewat websitenya via terminal. Lengkapnya bisa tuan - tuan lihat di website resminya. Klik aja disini.
Perdana Posting Gw
Sunday, July 15, 2007
Kayaknya katro ya, gw dah 14 tahun kenalan ma internet, tapi baru sekarang jadi 'ngeh' bikin blog. But, nothing too late to start kan?
Nah ini juga penyakit lama yg juga mungkin turunan kali ya, waktu lagi off dari komputer, kayaknya banyak deh yg mau gw tulis, tapi begitu didepan komputer, semuanya kayak minggat, hehehe.
Gw, cowok, yang hobby gila ama komputer, mulai dari mainin hardware, utek-utek software sampe ngegoogling. Tapi sampe sekarang tingkat gw masih novice tuh, gak tau, mungkin Tuhan ngasih gw otak cuma yang sedang-sedang saja, hehehe.
Gw gak fanatik ama salah satu OS yg ada. Di kompi gw sekarang ada 4 system operasi yg semuanya jalan. Ms Windows XP, Ms Windows Vista, Mac OS X dan tentunya OS yg lagi ngetrend sekarang, Linux.
Buat Linux gw pake Ubuntu Feisty 7.04. Pernah juga nyoba nginstal distro yang lain, tapi kayaknya gw enjoy ma Ubuntu. Empat OS tersebut gw atur pake GRUB, boot manager bawaan Linux. Vista gw taruh di partisi logical, dan yg lainnya di primer. Selama ini gak ada masalah tuh..

